Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Desember 2012

Museum Unik "Museum Malang Tempo Doeloe"

"Museum" bukan kata yang asing lagi di telinga kita. coba sebutkan apa saja yang anda fikirkan tentang kata museum, yak benar sekali. selain kata sejarah, jadul atau kuno, tapi buanglah pemikiran seperti itu. Dikota Malang ada Museum yang berbeda yakni Museum Malang Tempo Doeloe

Konsep museum yang tampak berbeda dengan dilengkapi dengan miniatur kehidupan pra sejarah, yakni sejak 1 juta 500 tahun yang lalu, masa kerajaan sebelum berdirinya pemerintahan di Malang hingga miniature Malang Tempo Dulu. Menariknya, museum yang terletak di Jalan Gajahmada nomor 2 Kota Malang ini disusun sedemikian rupa, hingga pengunjung merasa seperti berada di lorong waktu. museum tersebut memiliki 20 ruangan yang masing-masing ruangannya mewakili setiap sejarah yang telah dilalui Malang.

Museum yang merupakan rancangan dari Dwi Cahyono ini sedianya dipersembahkan untuk ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya, yaitu Abdul Madjid diresmikan 22 Okrober 2012.  Pada awalnya museum ini hendak dibangun di pertokoan Sarinah. Alasan utama ingin dibangunnya museum ini di Sarinah adalah karena pada awal pembentukan kota Malang, pusat pertokoan Sarinah saat ini adalah titik nol pemerintahan Malang. Berdasarkan hal tersebut, maka pendopo awal, bukanlah yang bertempat di depan pertokoan Mitra 2 dan Gajahmada Plaza, melainkan di pertokoan Sarinah saat ini. Malang sendiri pernah mendapat julukan sebagai Malang Kota Garnisum karena tingkat keamanannya.

Arca-arca peninggalan Kerajaan Kanjuruhan saat ini dapat disaksikan salah satunya di Museum Tempo Doeloe. Selain informasi seperti Kerajaan Kanjuruhan, gua tempat bertapa Ken Arok ditemukan dioramanya di museum ini. Gua tempat bersemedi Ken Arok yang asli terdapat di Pujon. Karena bersemedi di Pujon itulah Ken Arok dapat mengalahkan Kerajaan Kediri.

Banyak sejarah Malang yang mungkin bagi penduduk Malang sendiri tidak mengetahui, seperti ketika peristiwa Malang Bumi Hangus, jumlah bangunan yang terbakar sejumlah 1000 bangun, melebihi peristiwa Bandung Lautan Api, salah satu korban dari peristiwa Malang Bumi Hangus adalah dibakarnya gedung Walikota. Tujuan para pejuang Malang saat itu adalah agar infrastruktur tidak dimanfaatkan oleh Belanda ketika melakukan Agresi Militer.

Dengan hadirnya Museum Malang Tempo Doeloe semoga dapat menambah khazanah yang berharga terhadap sejarah kota Malang ini melalui kemasan yang elegan dan menarik. Karena identitas suatu bangsa ditentukan oleh karakter dan budaya bangsa itu sendiri. Bagi yang tertarik untuk mempelajari sejarah dengan kemasan yang menarik ini dapat langsung mengunjungi Museum Malang Tempo Doeloe yang terletak di Jalan Gajahmada No. 2 Malang. Tiket untuk masuk museum cukup Rp 25.000,00 untuk umum dan Rp 10.000,00 untuk pelajar. Museum buka dari jam 08.00-17.00 WIB.

teks : Dahlia Eka Fitri / 09220368

Jumat, 14 Desember 2012

Parade Gandrung Sewu Banyuwangi

Banyuwangi sering diidentikkan dengan Gandrung. dan Gandrung secara khusus dipilih untuk menceritakan Banyuwangi kepada Indonesia dan dunia. Sebuah sendratari yang disuguhkan untuk menggambarkan kekayaan budaya dan pariwisata yang ada di Banyuwangi.Gandrung sendiri adalah pagelaran berupa sendratari. Tari Jejer Gandrung dalam berbagai macam versi, antara lain Jejer Jaran Dawuk dan Jejer Gandrung Dor, merupakan tarian yang merupakan ikon khas Banyuwangi yang sudah sangat dikenal. Sebagai kesenian asli Banyuwangi, Gandrung banyak dibawakan masyarakat Banyuwangi, mulai dari usia kanak-kanak hingga dewasa.

Besarnya perhatian terhadap Gandrung maka perlu disediakan media aktualisasi secara masal bagi para penari Gandrung yang ada di Banyuwangi. Hal ini sekaligus juga untuk lebih mengenalkan dan menguatkan Gandrung sebagai bagian yang tidak terpisah dari sebuah cerita tentang Banyuwangi.Sedikit gambaran tentang Gandrung Banyuwangi, iringan perpaduan bunyi gong, kluncing, biola dan kendhang yang dipadupadankan dengan elektone menciptakan nada rancak yang begitu memikat. Dua penari perempuan lengkap memakai seragam kebesaran tari Gandrung Banyuwangi seolah menyatu dengan musik, menggoda penonton yang tak sabar diajak bergabung dalam tarian.
Malam menjelang subuh, para penari Gandrung dan tamu justru semakin terbawa suasana. Riuh suara pengudang yang berperan memberi iringan panjak (pemberi semangat) serta efek kocak dalam setiap gerakan seakan meminta para penari untuk lebih berani melakukan gerakan. Lenggak-lenggok penari mengisyaratkan esensi dari seni tarian ini, yakni perwujudan rasa syukur manusia atas pemberian Sang Khalik. 

Suguhan kolosal ini diadakan pada hari Sabtu, 17 November 2012 pukul 15.00 di Pantai Boom, Banyuwangi yang hanya berjarak sekitar 2 km dari dari pusat kota. Dari pantai tersebut, pengunjung bisa menikmati pemandangan Selat Bali dan pulau Bali dari kejauhan.

Parade Gandrung Sewu ini, sesuai dengan judulnya, akan melibatkan lebih dari 1000 orang penari yang terdiri dari pelajar tingkat SD hingga SMA, selain dari para musisi berupa penabuh gamelan dan sinden. Seluruh pengisi acara akan beraksi di tepi pantai, menjejakkan kaki di pasir pantai, tanpa beralaskan panggung. Pertunjukan ini akan berlangsung selama kurang lebih 80 menit. Di sesi awal, pengunjung akan disuguhkan berbagai macam kesenian lokal. Sesi berikutnya, akan dimulai dari kemunculan Gandrung hingga prosesi bagaimana seorang penari ditasbihkan menjadi Gandrung. Performance ini akan diakhiri dengan tarian massal 1000 Gandrung dan ditutup dengan Seblang Subuh, sebagai bagian akhir sebuah pertunjukan Gandrung yang sarat dengan filosofi dan religius.

Tari salah satu penari Gandrung tersebut mengatakan "Acara ini merupakan ciri khas dari kota Banyuwangi untuk menarik minat wisatawan lokal maupun asing untuk berkunjung ke kota ini". Gandrung sendiri merupakan kesenian peninggalan Majapahit yang menjadi pagelaran yang disuguhkan di istana. Gandrung berarti kekaguman. Kekaguman ini ditujukan kekaguman pada Dewi Sri. Banyuwangi saat itu merupakan wilayah yang makmur, dimana hasil panennya selalu melimpah. Filosofi penghormatan terhadap Sewi Sri inilah yang menjadi spirit masyarakat untuk mengembangkan Gandrung. Pada awal perkembangannya, Gandrung dibawakan oleh remaja putra (bukan wanita), karena pertunjukan itu dilakukan saat malam hari di saat bulan purnama. Penari Gandrung lanang yang paling termasyur bernama Marsan yang menari sampai akhir hayatnya, dan dikenal dengan Gandrung Marsan. Sedangkan penari Gandrung wanita pertama adalah Semi yang mulai menari pada tahun 1895. Semi jadi penari Gandrung setelah sakit dan berhasil sembuh setelah diadakan ritual Seblang. Mulai saat itulah Semi menjadi penari Seblang keliling dan kemudian berevolusi menjadi penari Gandrung.


Yang harus kita petik dari sini adalah makna yang tersembunyi dari kelahiran setiap kreasi budaya. Ada nilai perjuangan, harapan dan cita-cita yang melandasi sikap dan sifat nenek moyang kita sampai bisa menembus batas lini waktu. Dari satu generasi ke generasi lainnya, dari satu jaman ke jaman lainnya, gandrung dapat tetap bertahan sebagai pondasi budaya perjuangan meski semakin terdesak eksistensinya.

(Queen/09220248/ diolah dari berbagai sumber)

Jumat, 09 November 2012

Topeng Malang Nominor Sursum Moveor


Topeng Malangan merupakan penutup wajah dalam pertunjukan wayang yang bermakna lambang jasmani atau badan yang tampak dan  merupakan salah satu kesenian daerah yang cukup dikenal masyarakat dan merupakan aset budaya perlu dilestarikan. Sangat panjang kiranya jika ingin bercerita tentang kesenian ini, berikut ulasan dan wisata budaya tentang Topeng Malang : 

Perkembangan topeng Malangan

Perkembangan topeng Malangan menurut beberapa sumber berawal sekitar tahun 1898, saat kabupaten Malang dipimpin oleh

Sabtu, 20 Oktober 2012

Museum Satwa Kota Batu Wisata "Edukasi Menarik Nan Modern di Kota Batu"


Kota batu sudah sangat tersohor sebagai kota wisata terlengkap dijawa timur.  Tentunya hal ini menguntungkan saya sebagai warga  kota batu dalam mencari tempat tujuan wisata dan hiburan.
Diakhir liburan kuliah kemarin, saya bersama keluarga tertarik untuk mengunjungi jatimpark 2 di daerah oro – oro ombo kota batu. Tempat wisata ini

Rabu, 17 Oktober 2012

"Bantengan Nuswantara" Mengepung Kota Batu

  Salah satu peserta "Bantengan Nuswantara" pada pawai rutin yang diselenggarakan di kota Batu.

 

Wisata budaya dengan konsep pawai keliling kota merupakan salah satu cara untuk mencuatkan eksistensi budaya lokal di tengah-tengah masyarakat. Seni  Tradisional  Bantengan,  merupakan  sebuah  seni pertunjukan  budaya  tradisi  yang menggabungkan  unsur  sendra tari, olah kanuragan, musik, dan syair/mantra yang sangat kental dengan  nuansa  magis. Seni  Bantengan  yang    telah  lahir  sejak  jaman  kerajaan